Lampung Traveller

Kisah Pengrajin Kain Perca asal Lampung yang Tembus Pasar Indonesia

 

Kain Perca

Heni sukses mengembangkan berbagai kerajinan berbahan kain perca yang merambah hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Ba’da Subuh, Heni sudah bersiap di depan mesin jahitnya. Beberapa tumpukan kain perca yang sudah dibuat pola membentuk lapisan-lapisan masker, ia letakkan di sisi meja mesin jahit.

Hari itu, setidaknya ia harus menyelesaikan 50 pesanan masker custom pesanan pembelinya. Sementara, tak jauh dari mesin jahit, ada tiga tumpukan paket kardus yang sudah siap kirim.

Buat Heni Dwisari (37), menjadi pengrajin masker dan berbagai kreasi kerajinan berbahan kain perca lainnya adalah hobi yang mampu memberikan keuntungan tambahan yang sudah ia lakukan sejak lama.

Dari sepetak ruang keluarga dirumahnya yang ia ubah menjadi ruang produksi, hampir setiap hari Heni membuat ratusan masker maupun kerajinan tangan lainnya dengan permintaan yang terus meningkat setiap bulannya.

Pesanan masker kain buatannya mulai meningkat drastis ketika pandemi terjadi. Saat itu, ia menerima banyak orderan untuk membuat masker dari berbagai daerah di Indonesia.

Kerajinan Kain Perca dengan Merek Hey Lilil

Produk masker kain dan kerajinan lain yang ia beri nama ‘Hey Lilil’ itu bahkan merambah hingga ke berbagai kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar hingga ke Kalimantan.

Dengan memanfaatkan media sosial, produk masker kain rumahan yang ia buat mampu bersaing sekaligus menjadi penopang utama perekonomian keluarganya.

“Saat pandemi memang saya mengurangi produksi kerajinan lain selain masker, karena saat itu terjadi kelangkaan masker medis sehingga saya tergerak untuk membuat masker dari kain. Dan ternyata, permintaannya lumayan tinggi, apalagi waktu itu, pengrajin masker masih relatif sedikit,” aku Heni.

Ketika membuat masker-masker dengan motif dan corak kain yang unik itu, Heni sepenuhnya dibantu oleh adik perempuannya, karena ia mengaku sempat kewalahan melayani berbagai pesanan masker dari berbagai daerah di Indonesia.

“Awalnya memang saya menjual hanya sebatas di lingkungan pertemanan sewaktu menjadi guru dulu, tapi karena banyak yang tertarik dengan desainnya akhirnya saya meluaskan pasar dengan memanfaatkan media sosial untuk menjual masker-masker buatan saya”.

Kain Perca

Baca Juga:  Melihat SMPN 6 Pulau Legundi, Saksi Bisu Tsunami 2018


Membuat Masker Berbahan Kain Perca

Soal kualitas masker buatannya, Heni amat selektif dalam memilih bahan kain yang akan digunakan. Ia bahkan harus melakukan riset terlebih dahulu terhadap jenis-jenis kain yang layak untuk dijadikan masker termasuk mempertimbangkan seberapa efektif masker buatannya mampu menghalau virus dan bakteri.

Berdasarkan riset sederhananya itu, Heni mampu membuat masker kain dengan lapisan kain tambahan di dalam masker sehingga mampu memenuhi standar masker, termasuk untuk anak-anak. Selain itu, masker buatannya juga bisa dicuci hingga bisa digunakan berulang kali.

“Saya memang cukup selektif untuk bahan masker yang saya gunakan. Artinya, saya tidak hanya sekedar mementingkan faktor desain dan motifnya saja tapi juga mengutamakan fungsi utama dari masker sebagai pelindung mulut dan hidung. Masker-masker yang saya buat ini terdiri dari tiga lapisan di dalamnya jadi bisa lebih maksimal melindungi sekaligus bisa dicuci dan digunakan ulang,” jelasnya lagi.

Selain itu dari sisi motif, Heni memang membuatnya dengan amat terbatas (kustom), sehingga corak atau motif kain perca antara satu masker dengan yang lainnya berbeda.

Kini juga, omzet masker dan kerajinan tangan lain buatannya mampu bersaing dengan produk lain serta mampu dijadikan sebagai penopang kebutuhan ekonomi keluarga.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama